Tanjakan Kajuara

Di Balik Tawa, Ada Pengabdian

By. Marlina Siraj


Matahari belum terlalu tinggi, tapi tekadku sudah melebihi ambisi superhero kelas menengah. Hari ini, untuk kedua kalinya, aku akan ikut Posyandu di Desa Coppo Tompong.

Semalam aku sudah menghubungi bidan desa, Bu Hasni.

“Halo, Bu. Besok saya mau ikut posyandu ya,” kataku penuh percaya diri.

“Oh, besok kita ke Posyandu Cakalang. Jauh sedikit… jalannya agak ekstrim, banyak lumut,” jawabnya dengan suara selembut ibu guru PAUD padahal yang ia maksud sebenarnya adalah jalur petualangan mirip program My Trip My Adventure.

“Oke Bu! Fix saya ikut!”
Entah kenapa aku menjawab itu secepat kilat. Mungkin aku lagi tidak waras.

Begitu tiba, suasana desa terasa damai. Hamparan sawah, kebun yang hijau, dan udara segar. Dari segi ekonomi, pendidikan, pertanian—semuanya tampak makmur. Tapi aku tahu, akses layanan kesehatan tidak selalu semulus pemandangannya.

Aku bertemu Bu Hasni di poskesdes. Beliau tersenyum lebar.

“Sudah siap?” tanyanya.

“Siap, Bu. Saya naik motor sendiri ya?” kataku, tetap sok berani.

Belum sempat Bu Hasni menjawab, ibu-ibu PKK langsung angkat suara sambil melotot lembut.

“Janganmi, Nak! Jalannya itu… hmmm… bagaimana mi bilangnya ya…” salah satu dari mereka mengerutkan dahi.

“Pokoknya kalau salah gas, kau bisa sampai di bawah jurang lebih cepat dari doa sapar,” sambung yang lain.

Aku tercekat.
“Oh… begitu ekstrim ya, Bu?”

“Ekstrim sekali. Kalau bukan yang biasa lewat, jangan coba-coba,” kata ketua PKK.

Otakku langsung memutar adegan dramatis.
Dalam hati: Kenapa semalam saya bilang fix ikut?? Kenapa???

Pukul 09.00, kami berangkat. Aku dibonceng oleh salah satu pengendara berpengalaman. Sepanjang perjalanan, Bu Hasni duduk di motornya sambil bercerita.

“Dulu, tahun 2006, waktu saya baru datang tugas di sini, belum ada jalan seperti sekarang,” katanya.

“Sekarang saja sudah begini, Bu…” sahutku lirih.

Ia tertawa. “Iya, tapi dulu lebih parah. Masyarakat Kampung Kajuara itu dulu turun gunung ke Tanjengan untuk posyandu. Jalan kaki semua.”

Aku melongo. “Jalan kaki, Bu? Lewat sini? Yang begini licinnya?”

“Iya. Hujan pun tetap datang. Mereka sangat semangat pelayanan kesehatan.”

Lalu beliau menambahkan, “Dulu tidak ada listrik, tidak ada kendaraan, jaringan telepon apalagi. Saya pernah bantu persalinan di Kajuara tengah malam. Sendirian.”

Aku menatapnya penuh hormat.
Dalam hati: Ini bukan bidan. Ini adalah pahlawan yang menjelma jadi manusia.

Motor yang kutumpangi naik perlahan. Roda belakang beberapa kali selip, lumutnya tebal seperti karpet hijau.

“Pegangi baik-baik, Nak!” teriak si pengendara.

Aku langsung memeluknya seperti bayi koala memeluk batang pohon.

“Terlalu kerasmi itu, Nak! Saya masih bisa bernapas kok,” katanya sambil tertawa.

“Maaf Bu… saya takut lepas grip.”
Jujur, aku lebih takut jatuh daripada gengsi.

Di salah satu tikungan tajam, aku spontan memejamkan mata.

“Jangan tutup matata! Buka! Kalau tutup mata malah tambah takut!” seru Bu Hasni dari belakang.

Aku buka mata, tapi rasanya jantungku pindah ke lutut.

“Bu…” kataku gemetar,
“Kalau ibu hamil lewat sini, bisa langsung kontraksi sebelum waktunya.”

Semua orang tertawa.

“Makanya pemerintah desa siapkan mobil layanan kesehatan,” kata ketua PKK.
“Supaya tidak ada lagi ibu hamil meluncur turun seperti bola bowling.”

Aku mengangguk. “Bagus sekali, Bu… demi keselamatan bersama.”

Begitu kami tiba, suasananya ramai dan hangat. Anak-anak menjerit karena takut ditimbang, ibu-ibu saling bercanda soal berat badan, bapak-bapak hanya menonton dari jauh sambil pura-pura sibuk.

Seorang ibu berkata padaku,
“Baru pertama kali ki naik ke sini, Nak?”

“Iya, Bu. Deg-degan sekali saya.”

Ia tertawa sambil menepuk bahuku.
“Kami setiap bulan lewat sini. Sudah biasa ki.”

Di situ aku baru sadar: ketangguhan mereka jauh lebih besar daripada ketakutanku.

Bu Hasni bekerja dengan cekatan: memeriksa ibu hamil, menimbang bayi, memberi penyuluhan, sambil sesekali meladeni tawa warga.

“Aduh Bu, badan anakku turun lagi,” kata seorang ibu.

“Tidak apa-apa, Bu. Anak ta ini banyak bergerak, mungkin energinya habis buat main,” kata Bu Hasni.

Anaknya yang masih balita mendadak menari kecil sambil memukul-mukul udara, seolah mendukung pernyataan tersebut.

Semua tertawa.

Di perjalanan pulang — yang tidak kalah mendebarkan — aku merenung.

Betapa besar perjuangan para bidan, PKK, dan pemerintah desa untuk memastikan layanan kesehatan bisa sampai ke tempat-tempat terpencil.

Betapa antusias masyarakat datang posyandu, meskipun mereka harus menembus jalanan licin, menanjak, berlumut, dan berbahaya.

Betapa besar harapan agar akses jalan ini diperbaiki, demi keselamatan dan kenyamanan semua warga.

Aku menarik napas panjang.

“Bu Hasni,” kataku,
“Saya salut sama Ibu. Tujuh belas tahun lebih bertugas di sini, itu luar biasa.”

Ia tersenyum lembut.
“Pengabdian itu bukan soal mudah atau susah, Nak. Tapi soal hati.”

Aku hampir meneteskan air mata—kalau saja motor tidak bergoyang tiba-tiba sehingga aku hampir jatuh.

“Pegangi Nak! Jangan melamun!” teriak pengendara.

“Iya Bu!!!” jawabku panik.

Semua tertawa lagi.

Di balik tanjakan Kajuara yang mengerikan, ada tawa, pengabdian, dan manusia-manusia hebat.
Para bidan, ibu-ibu PKK, dan masyarakat yang rela berjuang demi kesehatan bersama.

Akan terus mendukung mereka. Dengan cerita. Dengan suara. Dengan apa pun yang aku bisa.

Karena mereka adalah pahlawan — hanya saja tanpa jubah, tanpa pangkat.
Yang mereka punya hanyalah keberanian… dan jalan berlumut yang harus ditaklukkan setiap bulan.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Sakit Hati Bisa Mengubah Kepribadian Kita?

Kisah Gadis yang Kembali

Kenapa Aku Selalu Disalahkan? Jawaban Psikologi yang Perlu Kamu Tahu