Senandung Senja
Kampung Karst Belae dan Cahaya Lembayung
By. Marlina Siraj

Sore hari ini, Kampung Belae terbungkus cahaya keemasan yang jatuh perlahan di atas persawahan yang telah dipanen. Matahari condong di ufuk barat, memantulkan warna tembaga pada hamparan tanah yang baru saja dibalik. Sisa jerami berserakan, sebagian menumpuk di tepi pematang, sebagian lagi tercampur dengan lumpur yang menghitam setelah dibajak.
Suara traktor masih terdengar, meski lebih pelan dari tadi pagi. Mesin itu bergerak lambat, seperti menyesuaikan langkah dengan turunnya cahaya. Jejaknya membentuk pola panjang yang rapi, membuat tanah terlihat seperti halaman baru yang siap ditulisi musim berikutnya.
Bebatuan kars berdiri diam di tengah sawah, dikelilingi sinar jingga yang membuat permukaannya tampak memerah. Bayangannya memanjang, menyentuh tanah yang mulai mengeras seiring sore merayap. Mereka tampak seperti penjaga tua yang mengawasi sawah hingga matahari benar-benar tenggelam.
Angin sore membawa aroma tanah basah bercampur jerami, aroma yang hanya bisa ditemukan di kampung. Tidak ada lagi hiruk pikuk, yang ada hanya langkah pelan traktor, suara mesin yang teratur, dan sesekali bunyi burung yang kembali ke sarang.
Gunung di kejauhan berubah warna, dari biru menjadi ungu gelap, diselimuti cahaya yang semakin pudar. Sinarnya memantul di permukaan air irigasi yang tenang, menciptakan garis panjang seperti jalan cahaya menuju kaki gunung.
Sore hari ini, kampung terasa lebih hening. Sawah yang telah dibajak terlihat siap beristirahat, batu-batu kars berdiri tenang menunggu malam, dan seluruh langit perlahan memudar dari jingga menjadi ungu.
Di antara suara traktor yang mulai berhenti dan angin yang melembut, Kampung Belae, Kelurahan Biraeng, Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan menyimpan ketenangan yang hanya dimiliki sore seperti ini—sore yang tidak tergesa, tidak bising, dan penuh kedamaian alam yang apa adanya.
Komentar
Posting Komentar