Jejak yang Tidak Pernah Selesai
Kisah Takdir, Masa Lalu, dan Pulang
Kini, ia pulang untuk pertama kalinya setelah pergi begitu jauh.
Perjalanan Pulang
Becce duduk di dalam bus, menatap jendela yang dipenuhi embun pagi. Hidup merantau mengajarkannya banyak hal: bertahan, berdiri sendiri, berpura-pura kuat meski hati sering lelah.
Saat bus berhenti di terminal desa, aroma tanah basah menyambutnya—aroma yang dulu selalu membuatnya merasa aman.
Dan sebuah suara memanggilnya.
“Becce?”
Ia menoleh.
Lelaki dengan sweater abu-abu berdiri sambil tersenyum. Senyuman yang dulu selalu membuat dunia terasa lebih ringan.
Baco.
Sahabat masa kecil. Teman bermain di sungai. Tempatnya pulang sebelum rumah kehilangan maknanya.
Becce tersenyum kecil.
“Kamu masih sama ya.”
Baco tertawa.
“Kamu juga masih suka pura-pura kuat.”
Rumah yang Membawa Kenangan
Rumah tua itu masih berdiri, meski sudah rapuh. Dindingnya dingin. Lantainya berdebu. Tapi bagi Becce, setiap sudutnya menyimpan cerita yang membuatnya tumbuh lebih cepat dari anak lain.
Di ruang tamu, ia melihat foto keluarga yang warnanya sudah memudar.
“Masih sakit?” tanya Baco pelan.
Becce mengangguk pelan.
“Selalu.”
Dan Baco hanya berdiri di sampingnya. Tidak bertanya apa-apa. Tidak memberi ceramah.
Kadang luka tidak butuh kata-kata.
Hanya butuh seseorang untuk menemani.
Untuk Masa Lalu yang Pernah Pergi
Takdir punya caranya sendiri untuk mempertemukan kembali apa yang belum selesai.
Membawa kita pulang ke tempat yang kita hindari.
Mempertemukan kita dengan seseorang yang pernah menjadi rumah.
Becce mulai menyadari itu.
Malam itu mereka duduk di beranda sambil minum kopi.
“Kamu masih suka kopi pahit?” tanya Baco.
“Masih,” jawab Becce.
Baco tersenyum.
“Kamu itu mirip kopi pahit.”
Becce tertawa.
“Pahit?”
“Awalnya bikin kaget. Tapi lama-lama nyenengin.”
Becce memukul lengannya pelan.
“Dasar gombal.”
Baco menatapnya lama.
“Aku senang kamu pulang.”
Becce menunduk.
“Aku juga.”
Pengakuan yang Tertunda
Keesokan harinya, mereka pergi ke sungai tempat mereka dulu bermain. Di batang pohon, ukiran lama masih terlihat:
Becce & Baco – Sahabat Selamanya
Becce tertawa lirih.
“Kita dulu polos.”
“Kalau sekarang?” tanya Baco.
“Kita… rumit.”
Baco menarik napas.
“Becce… aku dulu suka kamu.”
Becce terdiam.
Ia tahu, tapi tidak pernah berani membayangkannya lagi.
“Aku baru berani bilang sekarang,” lanjut Baco,
“karena aku takut kamu tidak akan pulang kalau tahu.”
Air mata Becce jatuh pelan.
Rumah Tempat Segalanya Dimulai
Ada satu tempat yang belum Becce datangi—rumah lamanya, tempat semua luka bermula.
“Kalau kamu siap,” kata Baco, “aku temani.”
Rumah itu gelap, berdebu, dan penuh kenangan yang menyerang dari segala arah.
“Di sini…” suara Becce bergetar,
“di sini aku kehilangan semuanya.”
Baco menggenggam tangannya.
“Kamu tidak sendirian.”
Untuk pertama kalinya, Becce membiarkan dirinya menangis untuk masa lalunya.
Benang Takdir yang Menyambung Kembali
Hari demi hari Becce tinggal di desa, ia mulai merasakan kedamaian yang lama hilang. Ia menemukan versi dirinya yang dulu ia tinggalkan.
Dan ia menemukan seseorang yang tidak pernah berhenti menunggu.
Di malam terakhir, Baco berkata:
“Becce… kamu mau mulai hidup baru?”
Becce menatapnya.
“Hidup seperti apa?”
“Hidup yang tidak membuat kamu lari. Hidup yang tidak membuat kamu sendirian.”
Becce terdiam sebentar.
Lalu tersenyum.
“Kalau aku bilang iya… kamu siap?”
Baco membalas dengan senyuman yang penuh keyakinan.
“Becce… aku menunggu 18 tahun. Tentu aku siap.”
-----------------------------------------
Jika masa lalumu terhenti, jangan sesali.
Jika kamu pernah kehilangan, jangan takut melangkah lagi.
Takdir selalu punya cara mempertemukan kembali hal-hal yang belum selesai.
Seperti Becce.
Seperti kita semua.
Pada akhirnya, yang kita cari hanyalah satu:
Pulang.
Tidak selalu ke tempat.
Kadang kepada seseorang.

Komentar
Posting Komentar