Aku Hidup untuk Siapa ?
Yang Terlupakan

Ada hari-hari ketika aku berdiri di depan cermin dan bertanya pada diri sendiri, “Sebenarnya… aku hidup untuk siapa?”
Aku tumbuh dengan mencoba menjadi yang terbaik untuk orang-orang di sekitarku, Untuk keluarga, untuk pasangan, untuk orang-orang yang kuanggap penting.
Aku berusaha memberi yang paling baik dari diriku — sikap, waktu, tenaga, bahkan bagian dari hati yang kadang rasanya tinggal setengah. Tapi tidak semua balasan datang dalam bentuk hangat.
Tidak semua usaha dihargai, kadang yang kembali justru penolakan… atau kecewa yang tidak kupesan.
Lalu aku mulai sadar, mungkin aku terlalu lama menjadikan hidupku panggung untuk kepentingan orang lain. Mungkin aku terlalu lama lupa bahwa aku juga manusia, yang butuh diperhatikan, dipahami, dan dipeluk oleh diri sendiri.
Hari ini aku menulis ini bukan untuk mengeluh, tapi untuk mengingatkan diri: Aku hidup untuk diriku sendiri.
Untuk menjadi versi terbaik yang bisa kupilih, bukan versi yang dipaksa dunia, untuk berjalan dengan langkahku sendiri, meski jalannya sepi. Untuk jatuh, bangkit, terluka, tertawa, dan sembuh dengan caraku sendiri.
Jika suatu hari ada orang yang bertanya siapa yang aku perjuangkan, jawabannya sederhana:
"AKU HIDUP UNTUK TUHANKU"
Aku hidup untuk keluarga, dan aku hidup untuk diriku sendiri — yang selama ini sering kulupakan.
Perjalanan ini belum selesai, tapi setidaknya sekarang aku tahu kemana aku melangkah.
Komentar
Posting Komentar