Kisah Gadis yang Kembali
Setelah Bertahun-tahun Menghilang
By. Marlina Siraj
Akhir November 2024, ketika langit sore meneteskan cahaya keemasan seperti tirai tipis yang jatuh perlahan, seseorang datang mengetuk pintu hidupku. Tidak ada pesan. Tidak ada kabar. Hanya kehadiran yang tiba-tiba—begitu nyata hingga dadaku serasa dipukul oleh seribu kenangan.
Untuk beberapa detik aku terpaku. Apakah benar ini dia? Gadis kecil yang dulu kukenal, gadis kecil dari Desa Wakontu, Raha, Kabupaten Muna. Gadis yang pernah menghabiskan malam-malam bersamaku, memecah kesepianku dengan gelak tawanya yang ringan, yang hadir seperti cahaya lembut di masa mudaku.
Aku mengenalnya di tahun 2007. Ia masih duduk di bangku kelas dua SMP, ceria, lincah, dan selalu punya cara mengubah gelap menjadi hangat. Saat itu aku tidak pernah berpikir bahwa ia akan menjadi bagian kecil namun berarti dalam perjalananku. Namun hidup adalah perjalanan yang aneh—beberapa orang datang bukan untuk menetap, tetapi untuk meninggalkan bekas yang tidak bisa dihapus.
Dan ia menghilang. Begitu saja.
Hari itu November 2024, saat ia berdiri di depanku dengan tubuh yang lebih matang dan mata yang lebih lelah, aku melihat dua sosok sekaligus dalam dirinya: gadis kecil yang dulu hilang tanpa pesan, dan perempuan dewasa yang datang membawa beban bertahun-tahun yang tidak kukenal.
Kini ia seorang ibu, empat anak menunggu pelukannya, memanggilnya “mama” dengan cara yang selalu membuat hatinya kuat meski dunia runtuh sekalipun. Hidup telah menempanya menjadi wanita yang berbeda, namun ada satu hal yang tidak berubah: sorot matanya, sorot itu yang membuatku tahu, bahwa meski waktu berjalan begitu jauh, kami masih memiliki garis yang saling terhubung.
Namun kedatangannya kali ini tidak membawa kebahagiaan semata. Ia datang bersama sakit. Penyakit yang ia sembunyikan di balik senyum tipisnya. Penyakit yang perlahan mencuri hidupnya, hari demi hari.
Sejak itu, hatiku berubah. Aku tidak lagi hanya melihatnya sebagai bagian dari masa lalu. Ia menjadi seseorang yang harus kujaga, meski aku tidak tahu sampai kapan dunia mengizinkannya berada di sisiku.
Dalam setiap sujudku aku berbisik, “Ya Allah, panjangkan umurnya… berikan ia kesempatan memperbaiki semuanya. Jangan biarkan aku kehilangan dia untuk kedua kali.”
Ada banyak malam ketika aku ingin menangis, namun kutahan agar ia tidak melihat. Dalam kesakitannya, ketika tubuhnya melemah dan matanya berkaca-kaca, aku meraih tubuhnya, mengusap rambutnya, dan memeluknya seakan ia bayi kecilku.
Jika ada satu kesempatan untuk berbuat baik dalam hidup ini, aku ingin itu berupa kemampuan menjaga orang yang kembali dalam takdirku. Aku ingin diberi kesehatan, kekuatan, dan kesabaran—agar aku bisa merawatnya, menjaganya, dan membersamanya menapaki jalan yang tidak mudah.
Perjalanan pengobatannya adalah cerita panjang yang tidak selalu indah. Ada hari ketika ia marah tanpa sebab. Ada hari ketika mood-nya berubah secepat angin. Ada saat ia tampak begitu kekanak-kanakan, memintaku memahami hal-hal yang bahkan tidak bisa ia jelaskan sendiri. Kadang aku bingung, kadang aku lelah, kadang aku ingin menyerah.
Namun setiap kali aku melihat wajahnya—rapuh, lelah, tapi tetap berjuang—aku kembali teringat alasan mengapa aku memilih tinggal. Ada cinta yang tidak bisa kusebutkan namanya. Ada kepedulian yang tumbuh dari tempat yang mungkin tidak pernah kucari, tetapi menemukan jalannya sendiri.
Kadang aku kesal, kadang aku jengkel. Namun bisakah seseorang benar-benar marah kepada orang yang ia takut kehilangan?
Hari-hari berlalu, kami menjalani waktu dengan cara kami sendiri—perlahan tapi pasti. Ada tawa kecil yang muncul di sela-sela sakitnya. Ada cerita lama yang ia ulangi karena pikirannya sering melompat ke masa lalu. Kadang ia bertingkah persis seperti gadis kecil 2007 yang dulu kukenal, seakan waktu tidak pernah benar-benar mengambil bocah itu darinya.
Dan di momen seperti itu, aku tahu satu hal: "Tuhan tidak mempertemukan kami kembali tanpa alasan".
Mungkin kami dipertemukan agar aku belajar arti menjaga tanpa pamrih, mungkin agar ia merasa tidak sendirian menghadapi sakitnya. Mungkin agar kami bisa menutup kisah yang dulu dibiarkan menggantung. Atau mungkin… mungkin Tuhan ingin menunjukkan bahwa beberapa orang datang terlambat, tapi bukan berarti mereka tidak layak diperjuangkan.
Aku tidak tahu bagaimana akhir cerita ini, aku hanya tahu satu hal: selama waktu masih diberikan, aku akan tetap di sisinya. Merawatnya, Mendengarkan keluhnya, Mencuci luka yang tidak terlihat dan memeluknya seolah dunia berhenti berputar.
Karena dia—gadis kecil yang kembali di ujung waktu—telah menjadi doa yang selalu kuucapkan dalam diam.
Dan doa itu… tak ingin kututup.

Komentar
Posting Komentar